Selasa, 25 Oktober 2016

Candi Borobudur Bercorak Hindu dipakai umat Buddha

Candi Borobudur Bercorak Hindu Tetapi Dipakai Umat Buddha


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya + 15 km sebelah Selatan. Pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antara nya di sebelah Timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi, dibangun oleh para peganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra dan dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendirinya yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari wangsa dan dinasti Syailendra. Dan masa puncak kejayaannya berada di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan candi diperkirakan menghabiskan waktu 75-100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.

Terdapat kekurangan fakta mengenai apakah raja yang berkuasa pada saat itu beragama Buddha atau Hindu. Wangsa Syailendra dikenal sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, akan tetapi melalu penemuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa.

    Pembangunan candi-candi Buddha, termasuk Borobudur, saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. (Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha)
            Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar